Konversi minyak tanah (Mitan) ke liquid petroleum gas (LPG) yang didengungkan pemerintah belum sesuai dengan harapan masyarakat. Hal terlihat dari banyaknya antrian warga di beberapa wilayah Kota Surabaya untuk mendapatkan minyak tanah.
Pemandangan yang tampak akhir-akhir ini di beberapa penjuru kota Surabaya mengingatkan pemandangan pada era tahun 60-an, karena carut marutnya ekonomi pada waktu itu memaksa rakyat dan mahasiswa turun ke jalan.
“Bila pemerintah belum siap untuk melakukan suatu perubahan kebiasaan masyarakat seperti saat ini minyak tanah dialihkan LPG, distribusi minyak tanah ke agen pangkalan minyak tanah jangan dikurangi dulu jatahnya dan diulur waktu pengirimannya. Akibatnya ya seperti yang bapak lihat, kami harus ngantri berjam-jam untuk mendapatkan jatah pembelian mitan sebanyak 10 liter”, ucap Budi, warga Kelurahan Lidah Wetan dengan nada kesal yang juga ikut antri minyak tanah di pangkalan mitan lidah yang diikuti suara kur masyarakat Lidah Wetan lainnya yang sedang ngantri dan turut mendengarkan wawancara tersebut.
Hal senada juga diucapkan pemilik pangkalan mitan, ”Dulu sebelum ada kebijakan pemerintah yang mau mencabut subsidi BBM mitan dan dialihkan LPG, pengiriman mitan di pangkalan kami tidak ada masalah. Sekarang setelah adanya kebijakan itu, pengiriman mitan di tempat kami sering terlambat dan volumenya dikurangi. Biasanya kami dapat 5000 liter sekarang hanya 3000 liter,” ucapnya.
Di tempat terpisah, terkait dengan banyaknya antrian warga di wilayah Kelurahan Lidah Wetan yang memerlukan minyak tanah tersebut, Lurah Lidah Wetan mengatakan,”Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan agar warga Lidah Wetan dapat LPG subsidi sesegera mungkin, tapi apa daya kami, kami hanya bisa menunggu dan menunggu. Selain itu kami juga tidak tahu mengapa minyak tanah jadi langka. Kondisi seperti sekarang ini sebenarnya sudah di luar wewenang kami,” ucapnya. (Bud)
Distribusi LPG Carut Marut
April 11, 2008 oleh progresif


