Feeds:
Tulisan
Komentar

MESKIPUN sudah tiga kali dimutasi sebagai Camat paling ujung di Surabaya yakni Pakal, Pabean Cantian dan Karang Pilang tidak membuat Drs. Budi Hermanto, M.Si untuk patah semangat dalam bekerja. Alumnus APDN ini justru malah bangga, sebab setiap akan meninggalkan Kecamatan, dirinya selalu dapat memberikan kenyamanan bagi Camat yang baru dan bekas stafnya dalam bekerja.” Tiga kali pindah, aku selalu bangun kantor.” Ujar bapak lima anak. Lanjut Baca »

SEJAK menjabat sebagai Lurah Lontar tahun 2005 – 2008, Drs. Harun Ismail sudah berkali-kali bahkan berpuluh-puluh kali berurusan dengan pihak Kepolisian mulai dari tingkat Polres hingga Polda Jatim, dikarenakan banyaknya permasalahan tanah yang ada di wilayahnya tak kunjung selesai diantaranya saling Mengklaim, Penyerobotan, Rebutan dll.” Ya pokoknya nggak sampai ratusan, malas menghitung lah.” tuturnya lantas tertawa. Lanjut Baca »

Konversi minyak tanah (Mitan) ke liquid petroleum gas (LPG) yang didengungkan pemerintah belum sesuai dengan harapan masyarakat. Hal terlihat dari banyaknya antrian warga di beberapa wilayah Kota Surabaya untuk mendapatkan minyak tanah.
Pemandangan yang tampak akhir-akhir ini di beberapa penjuru kota Surabaya mengingatkan pemandangan pada era tahun 60-an, karena carut marutnya ekonomi pada waktu itu memaksa rakyat dan mahasiswa turun ke jalan.
“Bila pemerintah belum siap untuk melakukan suatu perubahan kebiasaan masyarakat seperti saat ini minyak tanah dialihkan LPG, distribusi minyak tanah ke agen pangkalan minyak tanah jangan dikurangi dulu jatahnya dan diulur waktu pengirimannya. Akibatnya ya seperti yang bapak lihat, kami harus ngantri berjam-jam untuk mendapatkan jatah pembelian mitan sebanyak 10 liter”, ucap Budi, warga Kelurahan Lidah Wetan dengan nada kesal yang juga ikut antri minyak tanah di pangkalan mitan lidah yang diikuti suara kur masyarakat Lidah Wetan lainnya yang sedang ngantri dan turut mendengarkan wawancara tersebut. Lanjut Baca »

Gara-gara Minyak Tanah (Mitan) sesama warga Ujung hampir bentrok. Beruntung gegeran yang menggunakan senjata tajam (Carok istilah Madura) antara warga dengan pemilik pangkalan mitan ini dapat di dengar oleh Lurah Ujung, Yunus, S.STP.
Dengan kesigapannya supaya aksi ini tak sempat meletus, maka diundanglah kedua belah pihak dibalai Kelurahan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Dalam rapat, mulai terungkap permasalahannya, warga merasa jengkel terhadap pemilik pangkalan pasalnya para pemilik pangkalan Mitan tidak mau melayani pembeliannya. Lanjut Baca »

Modus untuk menguasai Aset Negara yang tidak terurus lagi beragam cara, mereka ini bagaikan seekor Bunglon. Untuk itu jangan terkecoh oleh penampilan. Pada intinya mereka ini sangatlah kejam, tidak mengenal lagi siapa teman atau saudara. Maka berhati-hatilah !
Meskipun dianggap oleh ketiga warganya telah melakukan tindakan kesewenang-wenangan dan tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu dalam mencabut Surat Keterangan (SK) Lurah dengan no. 590/108/436/.7.28.2/2006 a/n M.Yusuf dengan luas 34.075 M2, SK no. 590/33/436.7.28.2/2007 a/n Poniman dengan luas 16.900 M2 dan SK no. 590/49/436.7.28.2/2007 a/n Reto dengan luasnya 16.775 M2  dan akhirnya di gugat melalui Pengadilan Tinggi Urusan Negara (PTUN) namun Lurah Tanjungsari, Tunarto, SH tetap tenang dan bersikukuh bahwa cara yang dilakukannya ini adalah demi menyelamatkan aset Negara bahkan dia juga sudah menyiapkan kuasa hukum.” Saya akan layani sampai dimanapun bahkan saya sudah siapkan pengacara.” Ujarnya.  Lanjut Baca »

Meskipun hujan yang turun dengan lebat, satu demi persatu sepeda motor memasuki area parkir Kelurahan Petemon. Selang 30 menit, tempat dengan ukuran 3 x 5 m itu telah penuh dengan roda dua bermesin, terlihat juga jejeran sepeda motor memenuhi halaman rumah samping Kelurahan.
Tepat pukul 10.00 WIB, balai yang terletak dilantai dua telah penuh dengan para undangan.
Keantusiasan warga Petemon yang di dominasi para ibu-ibu ini untuk mewakili wilayahnya masing-masing demi menghadiri undangan sosialisasi PSJN dengan cara baru yakni menyebarkan Ikan Cupang ke dalam bak mandi.” “Menurut daftar hadir, yang datang 150 orang.” ujar staf Kelurahan sambil memperlihatkan buku absensinya.

Lanjut Baca »

Sebanyak 661 pasang warga Semampir yang mengikuti acara nikah massal yang di gelar oleh Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) tambah bersyukur, karena  nantinya mereka juga akan mendapatkan akte kelahiran secara cuma-cuma pula “ Saya harapkan kedepannya, Walikota Surabaya harus menggratiskan biaya akte kelahiran “ kata Saleh Mukadar ketua DPC PDIP Surabaya dalam sambutannya pada acara nikah massal; Jum’at pekan lalu di lapangan Prapat Kurung depan RS PHC Surabaya. Namun harapan Penasehat Bamusi ini, waktu itu belum mendapat respon langsung oleh Bambang DH yang juga kader PDIP sebab Suami Dyah Katarina itu tidak hadir dalam acara nikah massal sekaligus Pelantikan Bamusi Surabaya padahal orang nomor satu di Surabaya itu juga dilantik dengan posisi menjabat sebagai penasehat Bamusi juga. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »